Hakikat Taat, Harus Bersumber dari Nilai-nilai Tauhid Kamis, 18/06/2026 | 02:13
Berkabarnews.com, Jakarta - Memeluk agama Islam tanpa ketaatan adalah sia-sia. Tidak ada yang lebih penting dalam Islam selain tiga hal, yakni takwa, ibadah, dan taat.
Menurut Sayyid Quthb dalam buku Fi Zhilal al-Qur'an, energi taat bersumber dari nilai-nilai tauhid. Bagi seorang Muslim ketaatan haruslah berdasarkan rujukan Alquran. Yakni, taat kepada Allah, Rasulullah SAW, dan pemimpin atau ulil amri (QS an-Nisa'[4]: 58).
Rahmat yang dibawa Islam akan terasa bagi semua umat jika setiap Muslim berkomitmen untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Realisasi taat dapat diwujudkan dengan cara berjamaah, bersatu, bukan bercerai-berai, apalagi saling berselisih.
"Tidak ada Islam tanpa berjamaah, sementara tidak ada jamaah tanpa ada kepemimpinan, dan tidak ada kepimpinan tanpa ketaatan." (HR ad-Darimi).
Dalam bermasyarakat dan bernegara, ketaatan pun merupakan kunci keberhasilan. Jika pemimpin mampu memberi keteladanan dalam ketaatan menegakkan hukum, misalnya, maka rakyat pun akan ikut mematuhi hukum. Hukum akan berwibawa, jauh dari fungsi sebagai alat kekuasaan.
Sebaliknya, jika pemimpin hanya menebar pesona, berjanji tanpa bukti, menginstruksikan ketaatan tanpa keteladanan, kepemimpinannya ibarat 'macan ompong'. Tidak akan efektif.
Tanda Allah mencintai
Ada beberapa tanda cinta Allah SWT yang patut dipahami. Pertama, ilmu. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah maka Allah akan membuatnya paham tentang agamanya” (HR Bukhari dan Muslim).
Memahami agama (Islam) bukan hanya tentang pengetahuan dalil-dalil dari Alquran atau hadis, tetapi juga menghadirkan agama sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Dengan demikian, orang yang ahli di bidang kedokteran atau arsitektur, misalnya, jika ia menggunakan keahliannya untuk kemaslahatan dan kebaikan, sesuai dengan ketentuan Allah SWT dan Rasul-Nya, maka itu bagian dari pemahaman agama.
Begitu juga seorang politisi yang berjuang di pemerintahan, jika ia tidak menggunakan agama sebagai ‘kendaraan politiknya’, maka ia disebut sebagai orang yang memahami agama.
Sebaliknya, jika ia menggunakan agama sebagai "umpan" agar mendapat jabatan dan harta maka ia sudah menjual agamanya untuk kebinasaan dirinya.
Kedua, musibah, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Jika Allah mencintai suatu kaum maka mereka akan diuji” (HR Thabrani).
Hidup ini adalah ujian. Jika kita mampu bersabar maka balasannya adalah keridhaan Allah SWT. Namun, jika kita tidak bersabar maka kita akan mendapatkan murka-Nya. Na’udzubillah.
Hal tersebut terdapat dalam hadis qudsi, “Siapa saja yang tidak ridha dengan ketentuan-Ku dan tidak sabar atas musibah-Ku, hendaklah dia mencari tuhan selain Aku” (HR Thabrani).
Dua hadis tersebut menjadi motivasi kita untuk bersabar atas ujian hidup ini, karena dengan kesabaranlah Allah SWT akan mencintai dan meridhai kita.**/republika