Dipanggil Jaksa untuk Ketiga Kalinya, Ketua KONI Kampar Kembali Mangkir
Senin, 22-02-2021 - 19:29:45 WIB
TERKAIT:
 
 

BANGKINANG - Ketua KONI Kabupaten Kampar, Surya Darmawan, tidak hadir memenuhi panggilan jaksa terkait dugaan korupsi proyek pembangunan ruang rawat inap tahap 3 di RSUD Bangkinang. Artinya, sudah tiga kali Surya Darmawan mangkir tanpa memberikan alasan.

Menurut Asisten Pidana Khusus Kejati Riau, Hilman Azazi, Senin (22/2/2021), jaksa penyidik kembali melayangkan panggilan terhadap Surya Darmawan. 

Menurut Hilman, dalam Pasal 112 ayat (2) KUHAP dinyatakan, "Orang yang dipanggil wajib datang kepada penyidik dan jika ia tidak datang penyidik memanggil sekali lagi, dengan perintah kepada petugas untuk membawa kepadanya".

Perkara ini naik ke tahap penyidikan setelah tim jaksa menemukan adanya peristiwa pidana dalam pengerjaan proyek tersebut. Sejumlah pihak telah dimintai keterangannya, di antaranya Asmara Fitrah Abadi. Direktur RSUD Bangkinang.

Selain itu Jaksa penyidik juga memeriksa Direktur RSUD Bangkinang periode 2017-2019, Andri Justian, Ketua Kelompok Kerja (Pokja) Unit Layanan Pengadaan (ULP) Kampar, Musdar.

Selain itu, proses yang sama juga dilakukan terhadap Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kampar, Edward, dan seorang anggota Pokja, Dicky Rahmadi.

Dari informasi yang dihimpun, ada dua perusahaan ikut tender pembangunan ruang rawat inap itu, yakni PT Gemilang Utama Alen berlokasi di Kompeks Bumi Sudiang Permai Jalan Perum Sudiang Raya Blok A 151 Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel). Perusahaan ini mengajukan penawaran senilai Rp46.492.675.038,79.

Satu perusahaan lagi adalah PT Razasa Karya. Menariknya, perusahaan itu kalah meskipun nilai penawarannya lebih rendah dari PT Gemilang Utama Alen, yakni Rp39.745.062.802,42.

Berdasarkan informasi, dalam pengerjaan proyek itu, PT Gemilang Utama Alen menggandeng pihak lain atau meminjam bendera perusahaan lain yang terkait dengan Surya Darmawan.

Proyek tersebut sesuai kontrak seharusnya selesai pada akhir 2019. Namun hal itu tidak terwujud. Rekanan hanya mampu menyelesaikan dengan progres 92 persen.

Dilihat dari sisa kegiatan sebesar 8 persen lagi, itu bukan nilai yang cukup besar. Namun dari informasi yang didapat, sejumlah pekerjaan dengan nilai yang cukup besar masih tersisa. Seperti, pemasangan satu dari tiga unit lift. Begitu juga dengan sejumlah AC belum terpasang.

Selain itu, sejumlah pekerjaan yang telah dilakukan dinilai asal-asalan. Seperti, di bagian teras pintu utama gedung, dimana pekerjaan belum selesai, seperti lantai, plafon serta tiang utama.

Kemudian, ditemukan beberapa dinding ruangan disulap menjadi tripleks dan beberapa lorong ditemukan plafon sudah rusak parah banyak yang bocor digenangi air. Beberapa tiang utama juga diketahui mengalami retak-retak.

Kendati tidak selesai, saat itu rekanan tidak dimasukkan dalam daftar hitam atau blacklist.***/ril

 

 




 
Berita Lainnya :
  • Dipanggil Jaksa untuk Ketiga Kalinya, Ketua KONI Kampar Kembali Mangkir
  •  
    Komentar Anda :

     
    PILIHAN +
    #1 BNPT: Mengubah Pancasila Berarti Membubarkan Bangsa Indonesia
    #2 Airlangga Hartanto Serahkan SK Pada Adi Sukemi untuk Maju di Pilkada Pelalawan
    #3 Maju Pilkada Pelalawan, Adi Sukemi Ingatkan Seluruh Kader Patuhi Keputusan Partai
    #4 Polda Riau Selidiki Uang BLT Covid-19 yang Diselewengkan
    #5 Kemenkop-UKM Beri Jaminan Modal Kerja dan Subsidi Bunga untuk Pelaku Usaha Mikro
     

     

    Quick Links

     
    + Home
    + Redaksi
    + Disclaimer
    + Pedoman Berita Siber
    + Tentang Kami
    + Info Iklan
     

    Kanal

     
    + Nasional
    + Politik
    + Ekonomi
    + Daerah
    + Hukrim
     
     

     

     
    + Internasional
    + Lifestyle
    + Indeks Berita
     
     
    © 2020 berkabarnews.com, all rights reserved