Tiga Taman Nasional di Riau Layak Jadi Objek Wisata
Minggu, 31-07-2022 - 11:25:57 WIB
Petugas usai memandikan seekor gajah dan anaknya di Teso Nilo
TERKAIT:
   
 

BOLEH jadi masih banyak yang belum tahu kalau Riau juga punya taman nasional. Bahkan, tak hanya satu. Di provinsi ini ada tiga taman nasional yang masing-masing memiliki kekhususan sendiri. Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT) di Kabupaten Indragirihulu dan sedikit di Provinsi Jambi. Taman Nasional Teso Nilo (TNTN) di Pelalawan, dan Taman Nasional Zamrud (TNZ) di Siak.

Ketiga taman nasional ini memiliki flora dan fauna yang beragam dan sebagian di antaranya termasuk yang dilindungi. Seperti gajah, harimau Sumatera, badak, beruang, dan aneka satwa lainnya.

Tumbuhannya pun beranekaragam. Mulai dari tanaman besar seperti kulim, meranti, dan hampir semua jenis kayu yang terdapat di hutan Sumatera. Bahkan sejenis raflesia atau bunga bangkai yang langka masih terdapat di TNBT.

Tak pelak lagi penduduk sedunia tentu saja akan menaruh harapan yang demikian besar bagi kelestarian ketiga taman nasional ini. Sebab kini sudah bisa dihitung dengan jari kawasan hutan yang dapat dihandalkan sebagai paru-paru dunia. Selain itu, keberadaan taman nasional ini pun diharapkan akan menjadi obyek wisata yang sangat menawan.

Dosa Masa Lalu

Saat menyusuri jalan menuju Taman Nasional Bukit Tigapuluh, suasana berbeda langsung terasa. Sepi dan agak mencekam. Sesekali berpapasan dengan penduduk asli yang baru pulang dari hutan mencari buah rotan. Buah ini nanti mereka jemur untuk diambil minyaknya.

"Harga minyaknya mahal, sampai dua juta rupiah per liter," kata Sidabutar, petugas polisi khusus kehutanan, yang mengemudikan salah satu mobil rombongan Wartawan Peduli Taman Nasional PWI Riau yang berkunjung ke sana, beberapa waktu lalu.

Hanya sekitar 10 menit menyusuri jalan berbatu, telah tiba di Kemp Granit. Yakni sebuah bangunan kayu bertingkat. Bekas perkantoran yang kini disulap jadi tempat persinggahan. Dari sini nampak menghampar kawasan Bukit Lancang yang hanya berjarak sepelemparan batu nun di seberang. Suasana di sana terasa hening. Bebukitan yang menghijau dengan pepohonan besar mirip torehan lukisan di kanvas. Indah, dan terasa bergairah memandangnya.

Begitulah keadaan Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Padahal, sebagian dari wilayahnya terdiri dari bukit batu granit yang hanya bisa ditumbuhi satu dua pohon. Justru hal ini yang menyebabkan pemerintah pada awalnya memberikan izin kepada pihak swasta untuk menambang batu granit di kawasan hutan itu.

Bekas penambangan masih tersisa. Seperti kemp dan beberapa rumah untuk para pekerja. Ada pula gudang tempat penyimpanan mesiu. Sebagian bukit batu sudah rata dengan tanah akibat proses penambangan dengan bahan peledak. Bahkan di suatu sisi ada kolam renang yang juga terbentuk dari cekukan tanah karena ledakan.
Rusaknya bebukitan batu secara tak langsung ikut memorakporandakan  kelestarian alam di sana. Pohon-pohon sudah pada lenyap sedikit demi sedikit. Aneka satwa juga menghilang satu per satu.

Untunglah pemerintah cepat menyadari hal ini. Seperti ingin menebus dosa masa lalu, pada 2002 kawasan Bukit Tigapuluh pun dijadikan sebagai taman nasional. Selain di Riau, sebagian kecil dari arealnya masuk ke Provinsi Jambi.

Tindakan pemerintah tersebut memang pantas diacungi jempol. Sebab, posisi kawasan hutan lestari sangat dibutuhkan di sepanjang Pulau Sumatera. Hutan yang lebat diharapkan bisa menjadi paru-paru dunia dalam menghasilkan oksigen. 

Namun, tentu saja tak segampang membalik telapak tangan menyulap lahan yang telah porakporanda seperti ini kembali  menjadi kawasan hutan lebat. Pengelola TNBT kini harus bertungkuslumus menata kembali agar flora dan fauna setidaknya bisa tetap bertahan. Seperti diungkapkan Fifin Jogasara, yang saat itu menjadi Kepala Balai Taman Nasional Bukit Tigapuluh, banyak tantangan yang dihadapi dalam menata taman nasional ini. 

Apalagi sebagai seorang wanita, bertugas di hutan tentu lebih bertambah lagi suka dukanya. Namun, sarjana kehutanan lulusan IPB ini nampaknya tak gampang menyerah.

"Kami harus tetap tegar menjaga kelestarian hutan," kata wanita asal Malang, Jawa Timur, yang manis ini.

Tantangan yang dihadapi bukan hanya dari dalam saja. Tapi justru lebih besar dari luar. Para perambah liar hampir setiap saat mengincer lahan produktif yang terhampar di sana. Mereka bukan hanya masyarakat setempat, tapi juga cukong-cukong dari Jakarta dan Medan.

Perambah liar memang kerap main kucing-kucingan dalam menjalankan aksi. Hal itu bisa terjadi karena untuk menjaga kawasan taman nasional seluas 144.223 hektare itu hanya ada 28 orang petugas Polisi Khusus (Polsus) Kehutanan. Selain melakukan patroli kehutanan, para petugas juga harus menjaga keselamatan aneka satwa dari pemburu liar.

Sekolah Gajah

Seperti di Bukit Tigapuluh, pemerintah juga berupaya menebus 'dosa' kehutanan yang dilakukan sebelumnya dengan menetapkan kawasan sepanjang aliran Sungai Teso dan Sungai Nilo di Kabupaten Pelalawan sebagai taman nasional. Awalnya, pada 2004 ditetapkan untuk lahan seluas
38.576 hektare. Sepuluh tahun kemudian diperluas lagi menjadi 81.793 hektare.

Tapi, saat dinyatakan sebagai Taman Nasional Teso Nilo (TNTN), bisa dikatakan kondisinya lebih parah ketimbang TNBT. Betapa tidak, areal ini sebelumnya sudah nyaris gundul dibabat perusahaan HPH (Hak Penguasaan Hutan), yang seperti datang silihberganti beroperasi.
Kayu-kayu bagus ditebangi untuk diekspor. Sedangkan sisanya jadi bahan baku pulp dan keperluan lainnya.

Bisa dibayangkan, hutan yang sudah gundul menyebabkan satwa menjadi kelimpungan mencari makan dan tempat bernaung. Maka wajar jika kemudian sering terdengar gajah mengamuk, harimau yang mondar-mandir di perkampungan dan terkadang sampai memangsa ternak dan manusia. Satwa lain yang tak mampu bertahan akhirnya hilang tak tentu arah.

Selain itu, seperti diungkapkan Heru Sukmantoro, Kepala Balai TNTN, dari 81.793 hektare luas seluruh taman nasional ini, yang bisa mereka kuasai sekarang hanya tinggal sekitar 18.000 hektare saja. Selebihnya sudah menjadi perkebunan sawit, karet, dan perkampungan. 

Heru mengatakan sudah berbagai upaya dilakukan untuk mengembalikan lahan yang sangat dibutuhkan bagi kelestarian flora dan fauna. Namun hingga kini belum menunjukkan hasil yang memadai. 

"Sekarang kita lebih fokus mengurus 18 ribu hektare lahan yang masih kita kuasai," lanjut Heru. Selain itu, di sini juga ada sekolah gajah. Di sini gajah-gajah dilatih untuk menggiring gajah liar yang sering mengganggu di kawasan. Ini membuat pelatihan gajah tersebut menjadi obyek wisata baru.

Ngebor dari Samping

Taman Nasional Zamrud di Kabupaten Siak nampaknya lebih beruntung. Lahan berupa hutan dan dua danau seluas 31 ribu hektare ini lebih bisa terjaga karena berada di kawasan penambangan minyak PT Caltex Pacific Indonesia yang kini peran opersionalnya digantikan BOB Siak.

Ditemukan pada 1975, kawasan danau dan hutan ini boleh dikatakan masih perawan. Belum banyak terjamah. Julius Tahija, Direktur utama perusahaan minyak yang berkantor pusat di Amerika Serikat ini sampai langsung jatuh hati melihatnya. Dua danau yang sangat indah, airnya berwarna hitam, masih perawan, dan memiliki flora dan fauna yang sangat beragam.
    
Selain itu, di bawah danau tersebut ternyata menyimpan cadangan minyak yang maha banyak. Suatu hal yang menggembirakan, namun sekaligus menyedihkan hati Tahija. Maklum saja, jika dilakukan proses pengambilan minyak, otomatis akan merusak kelestarian danau.
    
Tim pengeboran CPI pimpinan Tahija lalu mencari akal bagaimana agar pengeboran minyak bisa tetap dilakukan, tapi tidak sampai merusak kelestarian lingkungan. Akhirnya  ditemukan cara baru.

"Yakni melakukan pengeboran dari samping, sehingga kawasan danau ini menjadi tidak terusik," kata Nazarudin Nasir, External Affair Manager BOB PT. BSP - PHE, dalam acara Ekpedisi Wartawan PWI Riau ke Danau Zamrud.
    
Tahija bahkan kemudian  menemui Menteri Lingkungan Hidup yang saat itu dijabat Emil Salim. Ia meminta agar Danau Zamrud dijadikan sebagai kawasan yang dilidungi. "Agak aneh juga. Perusahaan minyak, yang biasanya menggasak lingkungan, kali ini membela lingkungan,” kata Emil waktu itu. Tamu yang hadir langsung tertawa mendengarnya.    
    
Kawasan Zamrud lalu dijadikan sebagai Suaka Margasatwa Danau Pulau Besar, dan Danau Bawah. Secara administratif, kawasan ini berada di Kecamatan Siak, Kabupaten Siak, Provinsi Riau. Luas areal yang ditetapkan bersama dengan suaka margasatwa sekitar 120.000 hektare.  Lahan ini juga dijadikan sebagai habitat kayu ramin.
    
Pada 2005, pemerintah Kabupaten Siak mengajukan usulan perubahan fungsi dari suaka margasatwa menjadi taman nasional. Bersama usulan tersebut, dimintakan pula penambahan luas kawasan. Alasannya karena ada rencana pembagian zonasi. Pemerintah Kabupaten Siak akan membagi kawasan taman nasional nantinya menjadi zona pemanfaatan, zona penelitian, zona pendidikan, dan zona pariwisata.

Perubahan fungsi tersebut baru disetujui oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada tanggal 4 Mei 2016. Persetujuan ini ditindaklanjuti dengan diterbitkannya surat keputusan Menteri LHK No. 350, yang mengatakan kawasan suaka margasatwa digabungkan dengan hutan produksi tetap Tasik Besar Serkap.

Gabungan kedua wilayah ini yang kemudian ditetapkan sebagai Taman Nasional Zamrud. Luasnya 31.480 hektare. Sebanyak 28.238 hektare berasal dari Suaka Margasatwa Danau Pulau Besar dan Danau Bawah, sedangkan 3.242 hektare sisanya berasal dari hutan produksi tetap Tasik Besar Serkap.

Selain keindahan panorama alam, di sekitar Danau Zamrud juga terdapat berbagai macam satwa langka, seperti harimau Sumatera yang terancam punah, beruang merah, ikan balido, ikan arwana dan masih banyak yang lainnya. Satwa penghuni kawasan Danau Zamrud ini kurang lebih 33 spesies burung, 1 spesies reptil dan 18 spesies mamalia. Di sini juga banyak berkeliaran kelelawar bertubuh besar, serta beruk tak berekor.
    
Setakat ini belasan nelayan memanfaatkan danau Zamrud untuk tempat mencari nafkah. Mereka dianjurkan memakai peralatan penangkap ikan dan udang yang sederhana, sehingga anak ikan dan udang tidak ikut terpancing. "Sehari bisa dapat hasil sampai dua ratus ribu rupiah," kata Kaslan, seorang nelayan. Ia lebih mengkhususkan mencari udang hitam. 
    
Berbagai pihak telah berupaya untuk mempertahankan kelestarian Zamrud. Kendati begitu, disebutkan ekosistem di Taman Nasional Zamrud sudah mengalami perubahan sejak tahun 2000. Penyebabnya adalah adanya deforestasi alias pencurian kayu, dan pengalihgunaan lahan hutan menjadi kebun sawit.  Selain itu, kanal-kanal drainase juga mulai dibuat oleh masyarakat setempat untuk keperluan lahan budidaya.

"Danau zamrud merupakan salah satu danau air tawar di atas lahan gambut yang indah alamnya dan kaya akan flora dan fauna di dalamnya. Ini harus kita jaga dan lestarikan," kata Setya Hendro W, Kepala Dinas LHK Kabupaten Siak.

Seperti yang dilakukan Pemkab Siak, TNBT, dan TNTN juga layak diusulkan menjadi kawasan wisata. Mengingat obyek wisata di Provinsi Riau terhitung masih sedikit. Memang, peruntukan taman nasional ini lebih bertujuan untuk melestarikan alam dan lingkungan. Namun, dengan cara seperti yang dilakukan Pemkab Siak, masalah ini mungkin bisa diatasi.**/irwan e. siregar




 
Berita Lainnya :
  • Tiga Taman Nasional di Riau Layak Jadi Objek Wisata
  •  
    Komentar Anda :

     
    PILIHAN +
    #1 BNPT: Mengubah Pancasila Berarti Membubarkan Bangsa Indonesia
    #2 Let's Graze with Cows at Padang Mangateh
    #3 JualBuy.com, Startup Asli Anak Riau Resmi Diluncurkan
    #4 Airlangga Hartanto Serahkan SK Pada Adi Sukemi untuk Maju di Pilkada Pelalawan
    #5 Polda Riau Selidiki Uang BLT Covid-19 yang Diselewengkan
     

     

    Quick Links

     
    + Home
    + Redaksi
    + Disclaimer
    + Pedoman Berita Siber
    + Tentang Kami
    + Info Iklan
     

    Kanal

     
    + Nasional
    + Politik
    + Ekonomi
    + Daerah
    + Hukrim
     
     

     

     
    + Internasional
    + Lifestyle
    + Indeks Berita
     
     
    © 2020 berkabarnews.com, all rights reserved